MAKALAH MIKROBIOLOGI
TENTANG
VIRUS
DISUSUN OLEH :
RENI MUSTIKA (15010021)
SESI A / 2015
DOSEN
PENGAMPU : Dra. GUSTINA INDRIATI, M.Kes
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI
SUMATERA BARAT
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah Mikrobiologi yang berjudul “VIRUS” ini dengan seksama dan
tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Ucapan terima
kasih penulis sampaikan kepada ibuk Dra. Gustina Indriati, M.Kes yang telah
memberi arahan kepada penulis, dan ucapan terima kasih juga penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran penyusunan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Dalam menyusun
makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan. Untuk
itu penulis meminta maaf atas segala keterbatasan waktu dan kemampuan penulis
dalam menyelesaikan makalah ini. Segala kritik dan saran yang membangun dari
pembaca akan penulis terima dengan sebaik mungkin.
Padang, November 2017
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR ................................................................................ …………… i
DAFTAR
ISI ............................................................................................... …………… ii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
...................................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah
............................................................................. …………… 1
C. Tujuan
.................................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
1. Struktur Virus .........................................................................................................3
2. Selubung Virus Tumbuhan .....................................................................................5
3.
Klasifikasi Virus .....................................................................................................7
4.
Siklus Replikasi
Virus..............................................................................................8
5.
Peranan Virus Terhadap Makhluk
Hidup.................................................................13
BAB III PENUTUP
. A. Kesimpulan
...........................................................................................................15
B. Saran
……………………………………………………………………………..... 15
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
PERTANYAAN DISKUSI
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Virus adalah parasit berukuran
mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus hanya dapat
bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel
makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi
sendiri. Dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat dan di luar inangnya
menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA
atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan
pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi
ketiganya.
Penelitian mengenai virus dimulai dengan
penelitian mengenai penyakit mosaik yang menghambat pertumbuhan tanaman
tembakau dan membuat daun tanaman tersebut memiliki bercak-bercak. Pada tahun
1883, Adolf Mayer, seorang ilmuwan Jerman, menemukan bahwa penyakit tersebut
dapat menular ketika tanaman yang ia teliti menjadi sakit setelah disemprot
dengan getah tanaman yang sakit. Karena tidak berhasil menemukan mikroba di
getah tanaman tersebut, Mayer menyimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan
oleh bakteri yang lebih kecil dari biasanya dan tidak dapat dilihat dengan
mikroskop.
Pada tahun 1892, Dimitri Ivanowsky dari
Rusia menemukan bahwa getah daun tembakau yang sudah disaring dengan penyaring
bakteri masih dapat menimbulkan penyakit mosaik. Ivanowsky lalu menyimpulkan
dua kemungkinan, yaitu bahwa bakteri penyebab penyakit tersebut berbentuk
sangat kecil sehingga masih dapat melewati saringan, atau bakteri tersebut
mengeluarkan toksin yang dapat menembus saringan. Kemungkinan kedua ini dibuang
pada tahun 1897 setelah Martinus Beijerinck dari Belanda menemukan bahwa agen
infeksi di dalam getah yang sudah disaring tersebut dapat bereproduksi karena
kemampuannya menimbulkan penyakit tidak berkurang setelah beberapa kali
ditransfer antar tanaman. Patogen mosaik tembakau disimpulkan sebagai bukan
bakteri, melainkan merupakan contagium vivum fluidum, yaitu sejenis cairan
hidup pembawa penyakit.
Setelah itu, pada tahun 1898, Loeffler
dan Frosch melaporkan bahwa penyebab penyakit mulut dan kaki sapi dapat
melewati filter yang tidak dapat dilewati bakteri. Namun demikian, mereka
menyimpulkan bahwa patogennya adalah bakteri yang sangat kecil.
Pendapat Beijerinck baru terbukti pada
tahun 1935, setelah Wendell Meredith Stanley dari Amerika Serikat berhasil
mengkristalkan partikel penyebab penyakit mosaik yang kini dikenal sebagai
virus mosaik tembakau. Virus ini juga merupakan virus yang pertama kali
divisualisasikan dengan mikroskop elektron pada tahun 1939 oleh ilmuwan Jerman
G.A. Kausche, E. Pfankuch, dan H. Ruska.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
struktur virus ?
2. Bagaimanakah
selubung virus ?
3. Bagaimanakah
klasifikasi virus ?
4. Bagaimanakah
siklus replikasi virus ?
5. Apa
saja peranan virus terhadap makhluk hidup ?
1. Untuk
mengetahui struktur virus
2. Untuk
mengetahui selubung virus
3. Untuk
mengetahui klasifikasi virus
4. Untuk
mengetahui siklus replikasi virus
5. Untuk
mengetahui peranan virus terhadap makhluk hidup
BAB
II
PEMBAHASAN
1 1. Struktur
Virus
a) Ukuran
Virus
Virus
berukuran sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop
elektron. Ukuran virus sekitar 20 – 300 milimikron, jauh lebih kecil dari
ukuran bakteri, yaitu 10 mikron. Untuk membuktikan bahwa ukuran virus sangat
kecil, Iwanovski dan M. Beijerinck melakukan eksperimen dengan penyaringan.
Ternyata virus tetap lolos dari saringan keramik, sedangkan bakteri tersaring
karena ukurannya lebih besar daripada virus.
b) Bentuk
Virus
Virus
dapat berbentuk oval, batang (memanjang), huruf T, dan dapat juga berbentuk
bulat. Virus memiliki struktur yang sangat sederhana. Virus hanya terdiri dari
materi genetik berupa DNA atau RNA yang dikelilingi oleh suatu protein
pelindung yang disebut kapsid. Kapsid dibangun oleh subunit subunit yang
identik satu sama lain yang disebut kapsomer. Bentuk kapsomer-kapsomer ini
sangat simetris dan suatu saat dapat mengkristal. Pada beberapa virus, seperti
virus herpes dan virus influenza, dapat pula dilengkapi oleh sampul atau
envelope dari lipoprotein (lipid dan protein). Pembungkus ini merupakan membran
plasma yang berasal dari sel inang virus. Suatu virus dengan materi genetik
yang terbungkus oleh pembungkus protein disebut partikel virus atau virion.
c) Susunan
Tubuh Virus
·
Kapsid
Kapsid merupakan
lapisan pembungkus DNA atau RNA, kapsid dapat berbentuk heliks (batang),
misalnya pada virus mosaik, ada yang berbentuk polihedral pada virus
adenovirus, ataupun bentuk yang lebih kompleks lainnya. Kapsid yang paling kompleks
ditemukan pada virus Bakteriofaga (faga). Faga yang pertama kali dipelajari
mencakup tujuh faga yang menginfeksi bakteri Escherichia coli, ketujuh faga ini diberi nama Tipe 1 (T1), Tipe 2
(T2), Tipe 3 (T3) dan seterusnya sesuai dengan urutan ditemukannya.
·
Kapsomer
Kapsomer adalah
subunit-subunit protein dengan jumlah jenis protein yang biasanya sedikit,
kapsomer akan bergabung membentuk kapsid, misalnya virus mosaik tembakau yang
memiliki kapsid heliks (batang) yang kaku dan tersusun dari seribu kapsomer,
namun dari satu jenis protein saja.
·
Struktur Tambahan Lainnya
Struktur
tambahan lainnya, yaitu selubung virus yang menyelubungi kapsid dan berfungsi
untuk menginfeksi inangnya. Selubung ini terbentuk dari fosfolipid dan protein
sel inang serta protein dan glikoprotein yang berasal dari virus itu sendiri.
Tidak semua virus memliki struktur tambahan ini, ada beberapa yang memilikinya,
misalnya virus influenza. Secara kebetulan faga tipe genap yang diketemukan
(T2, T4 dan T6) memiliki kemiripan dalam struktur, yaitu kapsidnya memiliki
kepala iksohedral memanjang yang menyelubungi DNA dan struktur tambahan
lainnya, yaitu pada kepala iksohedral tersebut melekat ekor protein dengan
serabut-serabut ekor yang digunakan untuk menempel pada suatu bakteri.
·
Kepala
Kepala virus
berisi DNA dan bagian luarnya diselubungi kapsid
·
Isi Tubuh
Isi tubuh virus
sering disebut virion, yang terdiri dari asam nukleat (DNA atau RNA). Virus
hanya memiliki salah satu tipe asam nukleat. Terdapat beberapa jenis virus
berdasarkan isi tubuhnya yaitu Virus yang isi tubuhnya RNA dan
bentuknya menyerupai kubus antara lain, polyomyelitis, virus radang mulut dan
kuku, dan virus influenza.Virus yang isi tubuhnya RNA, protein, lipida, dan
polisakarida, contohnya paramixovirus.Virus yang isi tubuhnya terdiri atas RNA,
protein, dan banyak lipida, contohnya virus cacar.
·
Ekor
Serabut ekor adalah
bagian yang berupa jarum dan berfungsi untuk menempelkan tubuh virus pada sel
inang. Ekor ini melekat pada kepala kapsid. Ekor virus terdiri atas tabung
bersumbat yang dilengkapi benang atau serabut. Khusus untuk virus yang
menginfeksi sel eukariotik tidak memiliki ekor.
Tubuh virus tersusun atas
senyawa-senyawa berikut :
a)
Asam nukleat, asam
deoksiribonukleat (DNA) atau asam ribonukleat (RNA) sebagai bagian inti. Asam
nukleat pada virus diselubangi kapsid sehingga disebut nukleokapsid. Ada dua
macam nukleokapsid yaitu:
·
Nukleokapsid telanjang,
misalnya pada TMV, adenovirus dan warzervirus (virus kulit).
·
Nukleokapsid yang masih
diselubungi membran pembungkus misalnya virus influenza dan virus hespes.
b)
Protein, merupakan
komponen utama yang menyusun bagian terbesar dari kapsid.
c)
Lipid, terdapat pada
virus dalam bentuk fosfolipid, gikolipid, asam nukleat, kolesterol dan
lemak-lemak alami.
d)
Karbohidrat, terdapat
dalam bentuk ribose atau deoksirebose dalam asam nukleat.
2 2. Selubung
Virus
Selubung protein virus bersifat
antigetic yang mempunyai aktivitas hemaglutinasi, yang mana sangat berperan
aktif dalam proses virus entry. Dalam pembuatan vaksin virus kesulitan utamanya
terletak pada kompleksitas struktur protein selubung yang dimiliki virus.
Namun, selaput protein virus ini dapat diuraikan oleh air sabun yang memiliki
sifat dapat mengemulsikan lemak dan lipoprotein sebagai bahan utama kapsid
virus.
Selubung protein virus mengandung
fosfolipid, protein, dan glikoprotein juga beberapa molekul enzim di dalam
selubung protein virus telanjang (kapsid). Yang mana disusun oleh 20 jenis asam
amino, yaitu alanin(Ala, A), leucine(Leu, L), isoleucine(Ile, I), valine(Val,
V), praline(Pro, P), phenilalanin(Phe, P), tryptopan(Trp, W), metionin(Met, M),
glicsin(Gly, G), threonin(Thr, T), tyrosin(Tyr, Y), cystein(Cys, C),
asparagin(Asn, N), gulutamin(Glu, Q), asam aspartat(Asp, D), asam glutamat(Glu,
E), lysine(Lys, K), histidin(His, H), serin(Ser, S), dan Arginin(Arg, R).
Fungsi selubung virus ini adalah :
·
Sebagai pelindung virus
·
Menyelubungi materi
genetika yang berupa DNA atau RNA
·
Pintu untuk masuk virus
kedalam inti sel
·
Mengkaitkan virus di ke
permukaan sel
·
Sebagai protein
penyusun kapsid sehingga menjadi virus yang utuh
·
Sebagai pendeteksi/alat
mengenali hambatan waktu pengkaitan virus
·
Bertanggung jawab dalam
mekanisme penginfeksian sel inang
·
Sebagai tameng dari
virus sehingga imunitas tubuh manusia tak berdaya
·
Memudahkan penggabungan
antara permukaan sel induk dengan virus (viral and host membrane fusion)
·
Bertanggung jawab
menginduksi antibodi tertutup sehingga akses sistem imun mencapai situs
pelekatan reseptor menjadi sangat sempit
Mekanisme kerja selubung protein :
Selubung protein virus merubah
dirinya ke struktur yang lebih mudah untuk penggabungan/pengaitan di ke
permukaan sel yang dikenal dengan hemaglutinasi. Kemudian selubung protein
virus menggait ke reseptor tertentu di permukaan sel. Sehingga mesin gen kita
pun tidak mengenali lagi benda asing ini. Apabila menempelnya selubung protein
virus mengalami hambatan, selubung protein virus melakukan mutasi (proses
perubahan selaput luar protein dari virus secara perlahan) yang dikenal dgn
proses antigen-drift. Sedangkan bila melalui proses reassortment (proses
perubahan selaput luar protein dari virus secara radikal) dikenal dgn
antigen-shift. Virus melakukan perbiakan. Setelah itu, virus menjadi aktif
kembali lalu mensintesias protein peyusun selubung protein virus. Yang mana
pada waktu keluar dari sel dan sering dimodifikasi, seperti dengan penambahan
glikoprotein tertentu.
3 3. Klasifikasi
Virus
a) Virus
berdasarkan kandungan asam nukleat
1) Ribovirus
(Virus RNA) yaitu virus yang asam nukleatnya berupa RNA.
Contoh :
·
Virus toga (penyebab
demam kuning dan ensefalitis)
·
Virus arena (penyebab
meningitis)
·
Virus picorna (penyebab
polio)
·
Virus orthomyxo
(penyebab influenza)
·
Virus paramyxo
(penyebab pes pada ternak)
·
Virus rhabdo (penyebab
rabies)
·
Virus hepatitis
(penyebab hepatitis pada manusia)
·
Retrovirus (dapat
menyebabkan AIDS)
2) Deoksiribovirus
(Virus DNA) yaitu virus yang asam nukleatnya berupa DNA
Contoh :
·
Virus herpes (penyebab
herpes)
·
Virus pox (penyebab
kanker seperti leukemia dan limfoma, ada pula yang menyebabkan AIDS)
·
Virus mozaik (penyebab
bercak-bercak pada daun tembakau)
·
Virus papova (penyebab
kutil pada manusia/papiloma)
b) Virus
berdasarkan bentuk dasarnya
1) Virus
bentuk ikosahedral
Yaitu bentuk tata
ruang yang dibatasi oleh 20 segitiga sama sisi dengan sumbu rotasi ganda.
Contoh virus polio dan adenovirus.
2) Virus
bentuk helikal
Yaitu menyerupai
batang panjang, nukleokapsidnya tidak kaku, berbentuk heliks, dan memiliki satu
sumbu rotasi. Pada bagian atas terlihat RNA virus dengan kapsomer, misal virus
influenza dan TMV.
3)
Virus bentuk kompleks
Yaitu Struktur
yang amat kompleks dan pada umumnya lebih lengkap dibanding dengan virus
lainnya. Contoh poxvirus (virus cacar) yang mempunyai selubung yang
menyelubungi asam nukleat.
c)
Virus berdasarkan
keberadaan selubung yang melapisi nukleokapsid
1)
Virus berselubung
Yaitu mempunyai selubung yang
tersusun dari lipoprotein atau glikoprotein. Contoh poxvirus, herpesvirus,
orthomyxovirus, paramyxovirus, rhabdovirus, togavirus, dan retrovirus.
2)
Virus telanjang
Yaitu Nukleokapsid tidak diselubungi
oleh lapisan yang lain. Contoh Adenoviruses, Papovaviruses, Picornaviruses,
dan Reoviruses.
d)
Virus berdasarkan jumlah
kapsomer
1) Virus
dengan 252 kapsomer, contoh adenovirus
2) Virus
dengan 162 kapsomer, contoh herpesvirus
3) Virus
dengan 72 kapsomer, contoh papovavirus
4) Virus
dengan 60 kapsomer, contoh picornavirus
5) Virus
dengan 32 kapsomer, contoh parvovirus
e)
Virus berdasarkan sel
inangnya
1)
Virus yang menyerang
manusia, contoh HIV
2)
Virus yang menyerang
hewan, contoh rabies
3)
Virus yang menyerang
tumbuhan, contoh TMV
4) Virus
yang menyerang bakteri, contoh virus T
4. Siklus Replikasi Virus
Untuk berkembangbiak, virus
memerlukan lingkungan sel yang hidup. Virus hanya dapat berkembang biak
(bereplikasi) pada medium yang hidup (embrio, jaringan hewan, jaringan
tumbuhan). Karena virus tidak memiliki sistem enzim dan tidak dapat
bermetabolisme, maka virus tidak dapat melakukan reproduksi sendiri. Untuk
berkembangbiak mereka harus menginfeksi sel inang. Ada dua macam cara
menginfeksi virus yaitu fase litik dan fase lisogenetik.
a.
Daur litik
virus
akan menghancurkan sel hospes setelah berhasil melakukan replikasi. Adapun
tahapanya sebagai berikut:
1)
Fase Adsorbsi
Fase
adsorbsi ditandai dengan melekatnya ekor virus pada dinding sel bakteri. Virus
menempel hanya pada tempat-tempat khusus, yakni pad permukaan dinding sel
bakteri yang memiliki protein khusus yang dapat ditempeli protein virus.
Menempelnya virus pada protein diding sel bakteri itu sangat khas, mirip kunci
dan gembok. Virus dapat menempel pada sel-sel tertentu yang diinginkan karena
memiliki reseptor pada ujung-ujung serabut ekor. Setelah menempel, virus
mengeluarkan enzim lisozim (enzim penghancur) sehingga terbentuk lubang pada
dinding bakteri dan sel inang.
2)
Fase Injeksi
Setelah
terbentuk lubang, kapsid virus berkontraksi untuk memompa asam nukleatnya (DNA
dan RNA) masuk kedalam sel. Jadi, kapsid virus tetap berada diluar sel bakteri.
Jika telah kosong, kapsid lepas dan tidak berfungsi lagi.
3)
Fase Sintesis
Virus
tidak memiliki “mesin” biosintetik sendiri. Virus akan menggunakan mesin biosintetik
inang (misalnya bakteri) untuk melakukan kehidupanya. Karena itu, pengendali
biosintetik bakteri yakni DNA bakteri, harus dihancur-hancurkan. Untuk itu DNA
virus memproduksi enzim penghancur. Enzim penghancur akan menghancurkan DNA
bakteri tapi tidak menghancurkan DNA virus. Dengan demikian bakteri tidak mampu
mengendalikan mesin biosintetik sendiri.
DNA
viruslah sangat berperan, DNA virus mengambil alih kendali kehidupan. DNA virus
mereplikasikan diri berulangkali dengan jalan menkopi diri membentuk DNA virus
dengan jumlah banyak. Selanjutnya DNA virus tersebut melakuakn sintesis protein
virus yang akan dijadikan kapsid dengan menggunakn ribosom bakteri dan
enzim-enzim bakteri. Jelasnya, didalam sel bakteri yang tidak berdaya itu
disintesis DNA virus dan protein yang akan dijadikan sebagai kapsid virus,
dalam kendali DNA virus.
4)
Fase Perakitan
Kapsid
yang disintesis mula-mula terpisah-pisah antara bagian kepala, ekor, dan
serabut ekor. Bagian-bagian kapsid itu dirakit menjadi menjadi kapsid virus
yang utuh, kemudian DNA virus masuk didalamnya. Kini terbentuklah tubuh virus
yang utuh. Jumlah virus yang tebentuk 100-200 buah.
5)
FaseLitik
Ketika
perakitan virus selesai, virus telah memproduksi enzim lisozim lagi, yakni
enzim penghancur yang akan menghancurkan dinding sel bakteri. Dinding sel
bakteri hancur, dinding sel bakterimengalami lisis (pecah), dan virus-virus
baru akan keluar untuk mencari inang yang lain. Fase ini merupakan fase
lisisnya sel bakteri namun bagi virus merupakan fase penghamburan virus.
Penelitian
pada fag yang menyerang bakteri Esherichia coli menunjukkan bahwa ada virus
yang mengakibatkan bakteri mengalami lisis dan ada yang tidak. Virus T4
mengakibatkan bakteri mengalami lisis dan karenanya daur hidup virus tersebut
disebut sebagai daur litik.
b.
Daur lisogenik, virus
tidak menghancurkan sel bakteri. Tahapannya sebagai berikut :
1)
Fase Adsobsi
Fase
adsorbsi ditandai dengan melekatnya ekor virus pada dinding sel bakteri. Virus
menempel hanya pada tempat-tempat khusus, yakni pad permukaan dinding sel
bakteri yang memiliki protein khusus yang dapat ditempeli protein virus.
Menempelnya virus pada protein diding sel bakteri itu sangat khas, mirip kunci
dan gembok. Virus dapat menempel pada sel-sel tertentu yang diinginkan karena memiliki
reseptor pada ujung-ujung serabut ekor. Setelah menempel, virus mengeluarkan
enzim lisozim (enzim penghancur) sehingga terbentuk lubang pada dinding bakteri
dan sel inang.
2)
Fase Injeksi
Setelah
terbentuk lubang, kapsid virus berkontraksi untuk memompa asam nukleatnya (DNA
dan RNA) masuk kedalam sel. Jadi, kapsid virus tetap berada diluar sel bakteri.
Jika telah kosong, kapsid lepas dan tidak berfungsi lagi.
3)
Fase Penggabungan
Ketika
memasuki fase injeksi, DNA virus masuk kedalam tubuh bakteri. Selanjutnya, DNA
bakteri atau melakukan penggabungan. DNA bakteri berbentuk silkuler, yakni
seperti kalung yang tidak berujung dan berpangkal. DNA tersebut berupa benang
ganda yang terpilin. Mula-mula DNA bakteri putus, kemudian DNA virus
menggabungkan diri diantara benang yang putus tersebut, dan akhirnya membentuk
DNA sikuler baru yang telah disisipi DNA virus. Dengan kata lain, didalam DNA
bakteri terknadung DNA genetik Virus.
4)
Fase Pembelahan
Dalam
keadaan tersebut itu, DNA virus tidak aktif, yang dikenal sebagai profag.
Karena DNA virus menjadi satu dengan DNA bakteri, maka jika DNA bakteri
melakukan replikasi, profag juga ikut melakukan replikasi. Misalnya saja jika
bakteri akan membelah diri, DNA menhkopi diri dengan proses replikasi. Dengan
proses replikasi. Dengan demikian profag juga ikut terkopi. Terbentuklah dua
sel bakteri sebagai hasil pembelahan dan didalm setiap sel anak bakteri
tekandung profag yang identik. Demikian seterusnya hingga proses pembelahan
bakteri berlangsung berulangkali sehingga setiap sel bakteri yang terbentuk
didalam terkadung profag. Dengan demikian jumlah profag mengikuti jumlah sel
bakteri yang ditumpanginya.
5)
Fase Sintesis
Karena
radiasi atau pengaruh zat kimia tertentu profag taktif. Profag tersebut
memisahkan diri dari DNA bakteri, kemudian menghanacurkan DNA bakteri.
Selanjutnya, DNA virus mengadakan sintesis yakni mensintesis protein untuk
digunakan sebagi kapsid bagi virus-virus baru dan juga melakukan replikasi DNA
sehingga DNA virus menjadi banyak.
6)
Fase Perakitan
Kapsid-kapsid
dirakit menjadi kapsid virus yang utuh, yang berfungsi sebagai selubang virus.
Kapsid yang terbentuk mencapai 100-200 kapsid baru. Selanjutnya DNA hasil
replikasi masuk ke dalamnya guna membentuk virus yang baru.
7)
Fase Litik
Setelah
terbetuk virus-virus baru terjadilah lisis sel bakteri (uraian sama dengan daur
litik). Virus-virus yang terbentuk berhamburan keluar sel bakteri guna
menyerang bakteri baru. Dalam daur selanjutnya virus dapat mengalami daur litik
atau daur lisogenik.
5. Peranan Virus Terhadap
Makhluk Hidup
a.
Peranan yang menguntungkan
1)
Membuat Vaksin
·
Vaksin MMR (Measles,
Mumps, Rubella) berfungsi sebagai pencegah penyakit cacar air, gondongan,
campak jerman
·
OPV (Oral Polio
Vaccine) berfungsi sebagai pencegah sakit polio
·
(Varicella Zoster Vaccine) berfungsi mencegah
penyakit cacar air
·
HBV (Hepatitis B
Vaccine) berfungsi sebagai pencegah sakit kuning
2)
Pembuatan pelawan racun
(antitoksin)
3)
Pelemahan bakteri
b.
Peranan yang merugikan
1)
Bagi Manusia
·
Hepatitis (Pembengkakan
Hati)
·
Influenza disebabkan
oleh Orthomyxovirus
·
Rabies
·
Mata Belek
·
Campak
·
Polio
·
Ebola
·
Gondongan
·
Demam Berdarah
·
AIDS
·
Kanker
·
Herpes Simplex
·
Pilek
·
Flu Burung
·
Cacar Air
·
SARS
2)
Bagi Hewan
·
Penyakit kuku-mulut (food and mouth
disease) disebabkan oleh virus. Penyakit ini menyerang kerbau, sapi, atau hewan
ternak lain yang mengakibatkan mereka tidak mampu berjalan atau makan.
·
Penyakit rabies yang disebabkan oleh
virus rabies (rhabdovirus), menyerang hewan-hewan berdarah panas seperti
anjing, kucing, kelelawar, kera, dan lainnya.
·
Penyakit tetelo yang biasa
menjangkiti ayam. Menyebabkan ayam batuk dan mencret, lalu mati. Apabila
penyakit tetelo dapat disembukan, ayam tersebut bisa hilang keseimbangan dan
kepala terus berputar. Penyebab penyakit ini adalah virus New Castle Disease.
·
Tumor/kanker yang menyerang ayam dan
unggas lain disebabkan oleh Rous Sarcoma Virus (RSV).
·
Avian Influenza (flu burung)
disebabkan virus H5N1.
·
Penyebab tumor beberapa jenis hewan
yaitu Adenovirus.
·
Polyoma penyebab tumor yang
menyerang hewan.
3)
Bagi Tumbuhan
·
Mozaik, ditandai dengan
bercak kuning pada tembakau, disebabkan oleh TMV (Tobacco Mozaik Virus)
·
CUPD (Citrus Vern
Phloem Degeneration) penyebab penyakit pada jeruk , yang menyebabkan rusaknya
pembuluh angkut (Floem)
·
Tungro, penyebab kerdil
pada tanaman padi, vektornya adalah wereng hijau dan wereng coklat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Virus adalah parasit berukuran
mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologi. Virus hanya dapat
bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel
makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk
bereproduksi sendiri. Dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat dan di
luar inangnya menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil
asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi
semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau
kombinasi ketiganya. Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang
menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme
sel tunggal), sementara istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang
menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak
berinti sel).
Klasifikasi Virus diantaranya :
Virus Penyerang Bakteri (Bakteriofage), Virus Protista Virus Tumbuhan, dan
Virus Hewan/Manusia. Selain itu juga, virus dapat diklasifikasi menurut
kandungan jenis asam nukleatnya yaitu pada RNA dan DNA. Pada virus RNA, dapat
berunting tunggal (umpamanya pikornavirus yang menyebabkan polio dan influenza)
atau berunting ganda (misalnya revirus penyebab diare); demikian pula virus DNA
(misalnya berunting tunggal oada fase φ × 174 dan parvorirus berunting ganda
pada adenovirus, herpesvirus dan pokvirus).
Pada
replikasi atau perbanyakan virus dapat dengan dua daur yaitu daur litik dan
daur lisogenik.
B. Saran
Dengan membaca makalah ini, pembaca disarankan
agar bisa mengambil manfaat tentang apa yang penulis sampaikan dalam makalh
ini. Pada penulisan makalah ini penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak
sekali kekurangan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik
dan saran yang membangun guna penulisan makalah menjadi lebih baik kedepannya.
Daftar
Pustaka
Campbell, Reece dan Mitchell. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Lay, B.W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium . PT Raja Grafindo Persada.
jakarta
Pelezar, MJ dan EJS, Chan 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press.
Jakarta
Volk.
Wesley dan Whele. Margaret. 1990. Mikrobiologi
Dasar Edisi kelima jilid 2. Jakarta : Erlangga



Hadir
BalasHapusokee
HapusSaya hadir buk -Rifara Suci Yulika
BalasHapusSaya selalu hadir buk
BalasHapushadir buk
BalasHapussaya hadir buk -Nila Silvia
BalasHapusSaya hadir buk
BalasHapusSaya hadir buk-Yesi Nia Safarani
BalasHapusHadir buk
BalasHapusSaya hadir buk
BalasHapusOke buu
BalasHapushadir buk
BalasHapusHadir buk
BalasHapusOke buk
BalasHapusSaya hadir buk
BalasHapusyuhuuuu..
BalasHapusmantap buk ..
BalasHapusCasino Games - DrmCAD
BalasHapusCasino Games for all ages | 포항 출장안마 The gaming room offers the best 충주 출장마사지 in 김포 출장마사지 Play 영천 출장안마 the best games for cash prizes, get your prizes, and make 경상남도 출장마사지 life easier! All online